Di Sana, Di Telaga Al Kautsar, Rasulullah Menanti Kita

Cinta Rasulullah kepada para umatnya terus mengalir. Tak terbatas sekat dunia atau pun akhirat. Bahkan di saat menjelang Rasulullah wafat, kedalamannya tetap meliputi. Ketika peluh telah membasahi pelepah kurma yang menjadi alas, bertanya Rasulullah kepada Jibril, ”Apa hakku di hadapan Allah?” Jibril menjawab, ”Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti kedatanganmu.” Namun perkataan itu tidaklah menenangkan Rasulullah. Manusia mulia itu bertanya kembali, ”Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

Di Sana, Di Telaga Al Kautsar, Rasulullah Menanti Kita

Itulah wujud cintanya. Cinta itu tak pernah pudar. Ketika Malaikat Maut melakukan tugasnya dengan lembut, nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Beliau kemudian berujar perlahan, ”Jibril betapa sakit sakratul maut ini. Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Saat itu sewaktu Ali R.A. mendekati Rasulullah, terdengar ucapan lirih, ”Ummati..ummati..ummati..umatku..umatku..umatku”. Menjelang wafatnya Rasulullah tetap memanggil. Bukan kepada istrinya, Aisyah, atau putrinya, Fathimah. Tetapi kepada kita, umatnya. Cinta itu membawa manusia tersejukkan karenanya.

“Aku menunggu kalian di al Haudh, telaga. Siapa yang mendatanginya, dia akan minum airnya. Dan siapa yang minum airnya, tidak akan haus selamanya” (HR. Bukhari)

Manusia agung itu telah tiada. Setelah dua puluh tiga tahun menebar cahaya Islam dengan penuh cinta dan kasih sayang untuk menyelamatkan kita. Kepergiannya membuat seisi dunia menangis. Bukan hanya para sahabat yang begitu sangat mencintainya, tapi mimbar dan tongkat yang selalu menemaninya saat berkhutbah pun ikut berguncang hebat tanda keduanya sedang berduka.

Cinta Rasulullah kepada para umatnya terus mengalir. Meskipun telah tiada, namun kecintaan sang Nabi kepada kita umatnya tiada akan pernah henti. Cinta pada umatnya tidak bergeming. Karena kecintaan pada umatnya, Sang Nabi selalu mendoakan keselamatan dan menangisi penderitaan yang menimpa umatnya.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS At-Taubah: 128)

Cinta pada umatnya, sejak mula hingga akhir. Di dunia ini, kemarin, dan esok, entah berapa banyak umatnya yang menyambut cinta itu. Seperti seorang hamba sahaya bernama Tsauban, yang amat menyayangi dan merindukan Rasulullah. Sehari tidak berjumpa Nabi, ia rasakan seperti setahun. Kalau boleh, ia hendak bersama Nabi setiap masa. Jika tidak bertemu Rasulullah, Tsauban bersedih, murung dan kerap menangis. Rasulullah juga demikian terhadap Tsauban. Baginda mengetahui betapa hebat kasih sayang Tsauban terhadap dirinya.

Suatu hari Tsauban berjumpa Rasulullah. Katanya, ”Ya Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, saya sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walau sekejap. Jika dapat bertemu, barulah hati ini lega dan bergembira. Jika memikirkan akhirat, saya bertambah cemas, takut tidak dapat bersama denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga yang tinggi, sedangkan saya belum tentu kemungkinan di syurga paling bawah atau tidak dimasukkan ke dalam syurga langsung. Ketika itu saya tidak bersua denganmu lagi.”

Setelah peristiwa itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah,

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang soleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An-Nisa: 69)

Manusia bersama siapa yang ia cintai. Jika di dunia ia mencintai Rasulullah, insya Allah ia akan bersama manusia mulia itu di akhirat. Hati yang dalam kecintaan terhadap seseorang, akan merasa rindu teramat sangat jika tidak bertemu. Inilah yang melanda. Cintanya kepada Rasulullah adalah cinta yang berlandaskan keimanan. Mencintai Rasul bermakna mencintai Allah.

Cinta pada umatnya, sejak mula hingga akhir. Di sana, di padang Mahsyar, ketika segenap manusia disibukkan oleh urusan masing-masing. Ketika manusia digiring menuju pengadilan Tuhan Yang Maha Bijaksana. Ketika manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang tanpa alas kaki. Ketika matahari didekatkan hingga sinarnya yang membakar hanya berjarak satu hasta dari atas kepala. Ketika rasa haus mencekik tenggorokan. Cinta itu pun kembali hadir.

Cinta itu hadir dalam sebuah telaga yang indah nan menyegarkan. Dan hadir dengan nama yang indah pula, Al Kautsar, atau nikmat yang banyak.

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).

Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebagian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.” (HR. Muslim)

Di telaga (Al Haudh) itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menanti umatnya, dengan luapan cinta dan kasih sayangnya, menyambut mereka yang kehausan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku menunggu kalian di al Haudh, telaga. Siapa yang mendatanginya, dia akan minum airnya. Dan siapa yang minum airnya, tidak akan haus selamanya” (HR. Bukhari)

”Telagaku panjangnya sejauh perjalanan satu bulan. Sudutnya pojoknya sama. Airnya lebih putih dari pada susu, baunya lebih wangi dari pada misk. Gayungnya seperti bintang di langit. Siapa yang minum sekali, tidak akan haus selamanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di tepi telaga yang luas itu, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman, beliau berdiri menantikan umatnya. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Beliau menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap yang hadir di sana dengan sepenuh dirinya. Beliau memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”

Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.

”Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat sebelumnya. Kalian akan datang kepadaku dengan muka, lengan dan betis yang berkilauan karena bekas air wudlu,” (HR. Muslim)

Di telaga itu kelak, Rasul setia menanti umatnya dengan cinta dan kasih sayangnya. Tiada yang patut dilakukan, kecuali senantiasa memohon, agar bila tiba saatnya Allah memudahkan kita untuk mendatangi al Haudh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan bisa menikmati airnya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad hingga Yaumat Tanaad (hari kiamat saat manusia diseru di padang Mahsyar)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat meraih semua kebaikan dan kemuliaan yang dijanjikan-Nya di dunia dan di akhirat kelak, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa. Aamiin.

Sumber: eralistyorini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s